GeoGraFi PerTanian

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

Menurut  Sutanto ( April 2000 : 36 ) yang didasarkan pada pendapat Haggett, bahwa Geografi mengkaji terpolanya fenomena geosfer di dalam ruang pada saat tertentu. Pola tersebut terbentuk berdasarkan struktur spasial dan proses spasial. Pola tersebut terbentuk berdasarkan struktur spasial dan proses spasial1. Sedangkan ruang (space) adalah luasan atau daerah di permukaan bumi.

Salah satu kajian dalam geografi adalah geografi pertanian. Pengertian geografi pertanian di jelaskan oleh Singh dan Dhilon ( 1984 : 3 ), yaitu bahwa  geografi pertanian merupakan deskripsi tentang seni mengolah tanah dalam skala luas dengan memperhatikan kondisi lingkungan alam dan manusia. Sedangkan Ibery (1985) mengungkapkan bahwa geografi pertanian merupakan usaha untuk menjelaskan mengenai variasi aktivitas pertanian secara spasial pada suatu wilayah di permukaan bumi.

Pertanian sebagai suatu sistem keruangan merupakan perpaduan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Hubungan antara manusia dikelompokkan menjadi tiga yaitu (i) hubungan antara lingkungan fisik dan pelaksanaan pertanian atau perlengkapan pertanian; (ii) hubungan antara penyrbaran, kepadatan atau karakteristik penduduk dan wilayah pertanian yang tersedia atau aktivitasnya; dan (iii) hubungan antara sosio-ekonomi atau kultural ekologi dan penggunaan lahan pertanian dan pola produktivitas.

Adapun objek atau tujuan geografi pertanian  menurut Singh dan Dhilon ( 1984 : 7 ) yaitu :

  1. Perbedaan macam-macam pertanian yang tersebar di muka bumi dan fungsinya dalam spasial
  2. Tipe-tipe pertanian yang dikembangkan di daerah tertentu, persamaan dan perbedaan dengan daerah lain.
  3. Menganalisa pelaksanaan sistem pertanian dan proses perubahannya
  4. Arah dan isi perubahan dalam pertanian.
  5. Batas wilayah-wilayah produksi hasil panen dan kombinasi hasil panen atau perusahaan pertanian
  6. Menghitung dan menguji tingkat perbedaan antara wilayah
  7. Identifikasi wilayah yang produktivitas pertaniannya lemah; dan
  8. Mengungkap wilayah pertanian yang stagnasi, transisi, dan dinamis.

Dari konsep dalam geografi pertanian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa geografi pertanian mempelajari variasi aktivitas pertanian dengan memperhatikan keadaan manusia dan lingkungan alam. Variasi aktivitas pertanian di suatu wilayah tertentu.

1. Perkembangan Sistem Pertanian di Indonesia

Pertanian merupakan aktivitas ekonomi yang utama dan terbesar di Indonesia.  Penerapan sistem pertanian pada masa orde baru dilakukan dengan pencanangan Revolusi Hijau. Adanya dampak negatif dari penerapan revolusi Hijau tersebut, maka para ahli/pakar mulai memikirkan solusi lain untuk mengganti Sistem Pertanian Revolusi Hijau tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya konsep pembangunan berkelanjutan. Salah satu konsep pembangunan berkelanjutan dalam bidang pertanian yaitu adanya ‘Agenda 21 Indonesia’. Yang memuat tentang Pengembangan Pertanian dan Pedesaan Berkelanjutan. Sehingga kemudian berkembang sistem pertanian organik yang dikembangkan oleh sebagian petani ( lihat bagan )

Bagan perubahan sistem Pertanian di Indonesia

Green ManureLate 1950s

Local varieties Non-Chemical Inputs Low  Yield potential

Dramatic Yield

Increases

Organic Farming
Green Revolution

Tecnology

Late 1950s

High yielding Varieties Feertilizers                       Responsive irrigation

Yield Penalty ( Ω 50 % )

Conundrum of consepts, definitions and              practices

Gambar I. Agricultural development : A historical prespective

( sumber : Singlachar, 1996 dalam Veeresh, G.K, 1996 : 180)

2. Revolusi Hijau dan Dampaknya

Secara umum Revolusi Hijau merupakan peralihan dari metode pertanian tradisional menjadi teknologi pertanian modern. Peralihan tersebut terutama dalam penggunaan dalam fertilizer , irigasi dan perbaikan bibit secara genetical. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan hasil pertanian di daerah yang penghasil pangannya masih rendah, terutama di negara-negara berkembang yang dimulai tahun 60-an.

Pada akhirnya Revolusi Hijau menghantarkan Indonesia sebagai negara swasembada beras dan tidak lagi sebagai negara pengimpor beras terbesar dengan pangsa produksi yaitu sebesar 38,138 juta ton GKG (Gabah Kering Giling)/23,44 juta ton beras dengan tingkat produktivitas rata-rata 2,66 ton/ha.

Upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi pada perkembangan selanjutnya mengalami gejala pelandaian (leveling of) yang merupakan ancaman bagi kelestarian swasembada beras. Faktor yang menyebabkan sulit untuk mempertahankan swasembada beras antara lain usahatani padi sawah cenderung sudah mengalami kejenuhan (baik dari penggunaan pupuk maupun insektisida dan pestisida) dan dewasa ini sulit diharapkan suatu terobosan baru teknologi berupa Revolusi Hijau tahap kedua.

Loekman Soetrisno (1995:197) mengungkapkan bahwa, di tengah-tengah keberhasilan Revolusi Hijau muncul keprihatinan, terutama dalam pemanfaatan teknologi kimiawi. Sektor pertanian yang padat teknologi kimiawi pada jangka waktu tertentu akan merugikan petani.

Berdasarkan uraian Rigg (62-63) terdapat dua isu kritik terhadap pelaksanaan Revolusi Hijau, yaitu isu yang berkaitan dengan kerusakan ekologi dan isu yang berkaitan dengan adanya kesenjangan antara petani kaya dan petani miskin dalam penguasaan teknologi, termasuk hasil produksi dan pendapatannya.

Berdasarkan pada pendapat Rigg tersebut, maka dampak negatif Revolusi Hijau dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu sebagai berikut :

a. Dampak Negatif Terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi

  • Kehidupan petani menjadi terombang-ambing dan tidak berdaya karena fluktuasi-fluktuasi harga pasar, terutama harga hasil panen dan saprodi. Hal tersebut disebabkan dominasi tengkulak dalam membeli hasil panen dengan harga di bawah standar pemerintah dan harga bibit unggul, pupuk dan obtat-obatan kimia yang semakin mahal.
  • Adanya penurunan hasil produksi pertanian yang pada akhirnya menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan hidup para petani karena ketidakseimbangan antara jumlah jiwa, luas lahan sawah dan jumlah produksi
  • Kehidupan politik petani menjadi semakin dipersempit dan tergantung dengan teknologi pertanian menyebabkan pengetahuan petani tentang pertanian semakin rendah, karena mereka tidak pernah melakukan pengamatan sendiri terhadap pertaniannya.

b. Dampak Terhadap Kondisi Ekologis

Penggunaan bibit unggul, pupuk obat-obatan kimia secara over dosis akan menyebabkan adanya dampak negatif terhadap kondisi ekologis atau terjadinya kerawanan ekologis. Kerawanan ekologis merupakan keadaan fisik tertentu yang menyebabkan penduduknya harus mengalami fluktuasi-fluktuasi dalam panennya. Keadaan fisik yang ditimbulkan akibat revolusi hijau tersebut antara lain hama dan penyakit, kerusakan tanah damn penurunan produktivitas lahan.

Penggunaan teknologi kimiawi justru memunculkan hama-hama yang resisten terhadap pestisida, terjadinya resurjensi dari hama sasaran, masalah residu yang tertinggal pada bahan yang di panen, dan masalah pencemaran lingkungan. Kerawanan ekologis tersebut juga disebabkan adanya peningkatan jumlah penduduk yang tinggi di perdesaan sehingga menekan sumber-sumber daya tanah yang terbatas.

Pada sistem pertanian modern juga cenderung mempraktekkan pola monokultur. Di satu sisi praktek tersebut meningkatkan produksi komoditas tertentu, akan tetapi di sisi komoditas alternatif yang sekitarnya dapat diproduksi menjadi nihil.

Menurut Ishak dan Shodiq (1997 ; 30 ), bahwa praktek  monokaltur mempunyai kecenderungan adanya : (1) keseragaman varietas yang menghadirkan kondisi yang kondusif bagi perkembangan populasi hama dan penyakit tertentu;(2) varietas produk Bioteknolgi selain dirancang untuk menciptakan ketergantungan pada teknologi kimiawi, juga sebagai produk persilangan yang mengakumulasikan karakter-karakter dominan akibat adanya transformasi gen.

3. Pertanian Organik

Pertanian organic merupakan alternative kerena dianggap ekonomis , ekologis, dan lebih banyak memberikan nutrisi. Lebih ekonomis karena semakinj mahalnya sarana dan prasarana pertanian konvensional (seperti harga pupuk kimia, bibit unggul dan lainnya). Pertanian organic lebih menjaga ekologis karena tidak terdapat limbah unsure-unsur kimia yamg mencemari lingkungan. Pertanian organic juga lebih banyak mengandung nutrisi, karena berdasarkan hasil penelitian, makanan yang bersal dari tanaman yang dikelola secara alami ternyata lebih banyak mengandung nutrisi.

Pengertian Dan Prinsip Dasar Pertanian Organic

Pengertian pertanian organic oleh CAC (Codex Alimentarius Commission) (juli 2000 ;1) yaitu bahwa pertanian organic merupakan suatu metodologi pertanian spesifik dengan standar produksi yang tepat, bertujuan untuk mencapai optimalisasi ekosistem yang berkesinambungan secara social, ekologi, dan ekonomi. Sebagai suatu system pertanian organic adalah suatu system menagemen “ holistic” produksi yang mengembangkan dan memperkaya kesehatan argoekosistem yang mencakup biodiversity, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

Tiga tujuan utama dalam pelaksanaan pertanian organic yaitu ;

  1. Untuk membangun kesehatan tanah dan tanaman;
  2. Tercapainya keseimbangan ekosistem secara social, ekologi, dan ekonomi;dan
  3. Peningkatan produksi tanaman.

Dalam pelaksanaan system pertanian organic ada tiga peluang yang dapat dipilih oleh petani yaitu : jenis pertanian organik murni, jenis usahatani Revolusi Hijau terpadu atau jenis system usahatani terpadu. Pemilihan tersebut harus berdasarkan kondisi lingkungan yang ada.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan konsep system pertanian organic antara lain :

  1. Pengolahan tanah
  2. Pola tanam
  3. Pengendalian hama penyakit dan gulma ; dan
  4. Penggunaan factor produksi pertanian organik

a. Pengolahan Tanah

Sistem peretanian organik sangat memperhatikan tentang pengolahan tanah yang tepat, karena tujuan pengolahan Tanah yaitu :

  • Membentuk media tumbuh yang gembur dan mantap
  • Menyiapkan tempat pertyumbuhan yang serasi dan baik
  • Menghindarkan saingan terhadap tumbuhan pengganggu,dan
  • Memperbaiki sifat-sifat fisis dan kimia serta biologi tanah

Usaha yang dilakukan dalam sistem pertanian organik untuk menjaga keserhatan tanah diantaranya mendaur ulang unsur hara tanah dan penggunaan pupuk organic  atau mengurangi penggunaan pupuk kimia. Menurut Racman Sutanto (1998 ; 12-13), bahwa ada tiga cara pendauran hara dan bahan organik, yaitu :

  • Pendauran di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani, seperti limbah rumah tangga, sampah pemukiman/kota dan limbah industry agroindustri
  • Pendauran di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani sendiri dalam bentuk limbah/sisa pertanamancara ini bisa dilewatkan ternak atau melalui proses pengomposan. Cara ini tidak menambah hara, tetapi hannya mengembalikan hara yang tersangkut keluar bersama hasil panen.
  • Pendauran langsung di dalam petak pertanaman, biasanya melibatkan tanaman legume yang dapat di taman secara bergilir, secara tumpangsari dengan tanamn pokok di petak yang sama atau secara pertanaman lorong.
  1. b. Pola Tanam ( Cropping Pattern ) Pertanian Organik

Pola tanam dalam pertanian organic merupakan pola tanam yang beragam (multikultur) dalam satu hamparan dan pola tanam yang bergilir atau rotasi tanaman (crop rotation) dalam satu lahan dalam pola tanam tumpang sari (multiple cropping).

Rotasi Tanaman ( Crop Rotation )

Rotasi tanaman adalah suatu urutan tanaman yang sedikit atau banyak teratur selama waktu tertentu dalam lahan yang sama. Menurut Hohnholz (1986 : 159 ), dampak positif rotasi tanaman, yaitu antara lain :

  • Kesuburan tanah semakin baik dan kebutuhan pupuk tetap rendah
  • Gangguan gulma berkurang dan pengendaliannya menjadi lebih mudah
  • Kerugian sebagai akibat penyakit tanaman dan hama, khususnya tikus, akan berkurang
  • Kebutuhan akan herbisida dan bahan bahan untuk melindungi tanaman berkurang
  • Kebutuhan akan air secara keseluruhan berkurang
  • Penghasilan petani lebih tinggi dan lebih terjamin.

Tumpang Sari ( Multiple Cropping )

Tumpang sari adalah usaha penanaman dengan menggunakan dua macam tanaman atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Ada 2 jenis tumpang sari jika ditinjau dari umur tanaman, yaitu :

  • Tumpang sari sama umur ( inter cropping)
  • Tumpang sari berbeda umur ( inter planting)
  1. c. Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma

Upaya yang dilakukan untuk mengontrol hama dan penyakit antara lain dengan:

  • Membangun kesuburan tanah dengan pemupukan dan membuat bahan organik yang dibutuhkan tanah dengan menggunakan cover crops, kompos, dan biological yang didasarkan pada amandemen tanah
  • Menjaga kesehatan tanaman, karena akan dapat melawan penyakit dan serangga tanaman
  • Mengandalkan kenekaragaman populasi organism tanah, burung, serangga dan organisme yang lain untuk mengatasi masalah hama
  • Cara yang terakhir dilakukan yaitu menggunakan botanical atau pestisida yang tidak mengandung racun.
  • Sedangkan rumput liat dikontrol terus ditingkatkan pengolahannya seperti cover crops, mulsa, penyiangan, rotasi tanaman dan metode manajemen serupa
  1. d. Penggunaan Faktor Produksi Pertanian Organik

Penggunaan factor produksi pertanian organic yang diterapkan dalam system pertanian organic, yaitu antara lain :

1) Penggunaan bibit

Kelemahan dan keuntungan antara jenis bibit padi hibrida dengan jenis bibit padi local antara lain :

  • Pada varietas hibrida berumur pendek, sehingga produksi relative tinggi, tetap kelemahannya : persentase butir rusak saat digiling 55-70%, membutuhkan banyak air, rakus unsur nitrogen, biaya produksi tinggi dan tidak ramah lingkungan.
  • Padi jenis local meski berumur 10-15 hari lebih lama dari varietas hibrida tapi lebih enak, persentase butir rusak saat digiling lebih kecil 40 %, tidak memerlukan banyak air dan tidak rakus unsure nitrogen serta biaya produksi lebih murah.

2) Penggunaan pupuk dan pestisida

Konsepsi penggunaan pupuk dalam system pertanian organic yaitu dengan mengganti penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organic. Untuk menjaga kesuburan tanah pertanian memerlukan pemberian bahan organic yang dilakukan berulang-ulang untuk mengganti bahan organik yang telah berkurang akibat dari dekomposisi.

Adapun jenis pestisisda yang digunakan dfalam Sistem Pertanian Organik adalah pestisida nabati atau pestisisda yang bahan dasarnya dari tumbuhan. Pestisida ini bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relative aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.

3) Tenaga Kerja

Sistem pertanian organik membuka lapangan pekerjaan baru bagi buruh atau petani yang tidak punya lahan misalnya untuk mengolah tanah, pengolahan pupuk dsb

4) Ternak

Berbagai manfaat dari ternak dalam system pertanian organic yaitu dapat digunakan untuk membajak tanah, kotorannya untuk pupuk, dan merupakan pendapatan (income) yang lain.

4. Agroekosistem

Aktivitas pertanian merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungan alam yang memberikan arti bagi ekologi pertanian.

Analisis agroekosistem merupakan hal baru yang dikembangkan untuk memperbaiki kapasitas kita dalam melihat persoalan-persoalan yang muncul dari penerapan berbagai teknologi di bidang pertanian. Khususnya persoalan yang muncul sejak Revolusi Hijau.

Menurut pengertian agroekosistem adalah system ekologi yang dimodifikasi manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama bahan makanan. Agroekosistem memiliki kaidah-kaidah ekologi umum yang memiliki khas tersendiri seperti yang terlihat pada ekosistem sawah dengan ekosistem lainnya.

Empat keutamaan Agroekosistem yang sesuai untuk memahami ekosistem lain, yaitu :

  • Produktivitas. Hasil akhir panen atau pendapatan bersih, nilai produksi dibandingkan masukan sumber. Produktifitas selalu diukur dalam  pendapatan per hektar, atau total produksi barang dan jasa per rumah tangga atau negara. Produktifitas juga dapat  diukur dalam kilogram butiran, ikan atau daging, atau juga dapat dikonversikan dalam kalori, potein, vitamin atau unit-unit uang. Input sumberdaya dasar adalah tanah, tenaga kerja,dan modal
  • Stabilitas. Produktifitas menerus yang tidak terganggu oleh perubahan kecil dari lingkungan sekitarnya. Fluktuasi ini mungkin disebabkan karena perubahan ilkim atau susmbr air yang tersedia, atau kebutuhan pasar akan bahan makanan.
  • Keberlanjutan. Kapasitas agroekosistem untuk memelihara produktifitas ketika ada gangguan besar. Gangguan utama ini berkisar dari gangguan biasa seperti salinasi tanah, sampai ke yang kurang biasa dan lebih besar seperti banjkir, kekeringan atau hama baru.
  • Pemerataan. Pemerataan bioasanya diukur melalui distribusi keuntungan dan kerugian yang terkait dengan produksi barang dan jasa dari agroekosistem.

Berdasarkan uraian Con way tersebut, maka keseimbangan agroekosistem terjadi bila dalam agroekosistem tercapai tingkat produktifitas, stabilitas, keberlanjutan, dan pemeratan yang tinggi.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa agroekosistem juga dapat mengalalami ketidakseimbangan atau tidak statis. Ketidakstatisan atau perubahan tersebut dapat terjadi secara alamiah dan juga karena adanya campur tangan manusia (Hidayat notowigueno, 1993 : 30). Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam menjaga agroekosistem menurut Soekarti ( 1996 : 80), yaitu engan pemenfaatan sumber daya (resources endowmen) yang meliputi teknologi pertanian dan sumber daya alam yang ada di sekitar lahan pertanian dengan tanpa merusak agroekosistem.

Adapun tujuan duilakukannnya penelitian agroekosistem, antara lain diungkapakan oleh Gauthier (1998:IV-10) yaitu untuk mengetahui tingkat produktifitas lahan, pendapatan, dan koservasi sumber daya pertanian.

a. Produktifitas Dan Pendapatan Petani

Menurut Muryanto (1995 ; 67-68) bahwa petani akan melakukan perhitungan-perhitungan ekonomi dan keuangan walaupun tidak secara tertulis. Kalu petani menghadapi pilihan terkait apa yang akan mereka tanam maka ia akan memperhitungkan untung ruginya. Sehingga dapat dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya ( pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkan. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi.

Pengertian produktivitas merupakan penggabungan antara konsep efisien usaha (fisik) dengan kapasitas tanah.  Efisien fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari suatu kesatuan input.

Adapun pendapatan akan diketahui setelah hasil produksi (output) dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan dari faktor produksi(input0 yang masing-masing diukur dalam bentuk uang. sedangkan yang dimaksud biaya pengeluaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk ongkos produksi, seperti pembelian bibit, pupuk, pestisisda, sewa alat pertanian dan sewa hewaan.

b. Konservasi sumber daya alam.

Konservasi sumberdaya alam adalah penempatan setiap sumber daya lam pada cara penggunaan yang sesui dengan kemampuan sumbetr daya alam tersebut, dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar sumber daya alam tersebut tidak cepat rusak ( berkelanjutan). Konservasi sumber daya alam dalam hal ini merupakan konservasi sumber daya alam pertanian yang meliputi konservasi lahan, keanekaragaman hayati, dan kearifan lokal.

konservasi lahan yaitu usaha petani dalam penempatan setipa bidang lahan pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan lahan dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar lahan tersebut tiudak cepat rusak. sedangkan keanekaragaman hayati yaitu usaha petani dalam mengambangkan berbagai jenis atau bibit yang dalam hal ini adalah jenis bibit lokal.

Faktor terpenting dalam konservasi ini adalah pengetahuan petani tentang cara-cara konservasi. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari pengamatan-pengamatan petani sendiri yang sering disebut dengan ‘kearifan lokal/tradisional’.

Kearifan lokal dalam pertanian merupakan suatu pengetahuan ang utuh berkemban dealam budaya atau kelompok etnik tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara subsisten sesuai kondisi lingkungan yang ada.

KOMENTAR

Indonesia merupakan negara agararis yang sebagian besar penduduknya bermata pencahariaan sebagai petani. Pada masa orde baru demi meningkatkan produksi pangan terutama beras, pemerintah telah mencanangkan progam Revolusi Hijau yang disebut “ Agenda 21 Indonesia “ yang memuat tentang Pengembangan Pertanian Dan Perdesaan Berkelanjutan.

Seperti  yang disebut pada tuliasan di atas akhirnya progam tersebut telah mengantar Indonesia sebagai negara swasembada beras. Namun saya merasa itu patut dipertanyakan mengingat apa yang berlangsung sesudahnya. Swasembada beras untuk siapakah itu? untuk petani sebagai masyarakat yang termaginalkan atau untuk pemerintah agar terlihat berhasil dimata Dunia sebagai negara yang telah mampu memproduksi bahan pangan sendiri.

Pada kenyataannya yang terlihat petanilah yang menjadi korban progam tersebut. Seharusnya  yang mendapat keuntungan terbanyak  dengan swasembada beras adalah petani tapi malah sebaliknya petani menjadi pihak yang sangat dirugikan. Sungguh ironis memang karena bila dilihat dari awal mulai proses pembibitan hingga panen petani telah mengeluarkan biaya banyak serta waktu yang tak terhitung jumlahnya. Biaya tersebut guna memenuhi apa yang diminta pemeritah untuk membeli dan mengunakan bibit unggul, pupuk  kimia, obat-obatan pembasmi hama /pestisida yang sangat mahal harganya. Hal tersebut tidak sebanding dengan harga  jual yang turun dratis ketika masa masa panen datang. Pemerintah dalam hal ini tidak mampu mengontrol harga untuk kepentingan petani.

Kerugian lain dari pencanangan Revolusi Hijau rusaknya lingkungan yang meliputi kerusakan tanah, munculnya hama dan penyakit tanaman, dan penurunan produktifitas lahan. Masalah-masalah tersebut sampai sekarang masih ada sebagai warisan yang buruk dari rezim orde baru.

Walaupun begitu harapan dan pemikiran baru selalu muncul untuk memperbaiki hal tersebut seperti kata pepatah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Saat ini sistem pertanian organik muncul sebagai solusi yang baik untuk mengganti Revolusi Hijau. Berbeda dengan Revolsi Hijau yang mengedepankan teknologi pertanian yang tidak ramah lingkungan, sebaliknya sistem pertanian organik  selalu mengedapankan hasil produk pertanian yang sehat tanpa harus merusak keseimbangan ekologi. Sistem ini pada dasarnya adalah kembali ke alam karena dari pupuk sampai pestidanya ramah lingkungan. Dalam cara mengolah tanahpun tetap menjaga kesehatan dan kesubutran tanah. Sehingga akan menkan biaya produksi bagi petani, merekapun tidak akan dirugikan.

Sehingga saya sangat mendukung pertanian dengan cara organik ini karena selain menguntungkan petani dari segi ekonomi pertanian ini  juga ramah Lingkungan. Apalagi produk pertanian yang dihasilkan juga sehat dan aman untuk dikonsusmsi karena tidak mengandung bahan-bahan kimia. Walaupun imbasnya pada konsumen adalah produk yang dijual lebih mahal dari sebelumnya. Akan tetapi saya melihat trend masyarakat nntuk mengkonsumsi makanan sehat dari waktu kewaktu cenderung meningkat. Bagaimanapun hal ini sangat positif dan pemerintah perlu mendukungnya, karena petani makmur masyarakatnya sehat negarapun dapat maju ke arah yang lebih baik.